SEMARANG- Pada pelaksanaan wisuda periode November 2021 UIN Walsiongo Semarang, Kisah inspiratif datang dari Desa Mertapada Kulon, Kabupaten Cirebon, Ia adalah Risa Harisatulmillah,  anak pertama dari munib dan sulhah, mendapatkan gelar wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang, dengan IPK 3,86.(16/11/21)

 

Menempuh pendidikan di Jurusan PGMI selama delapan semester, santri Pondok Pesantren Fadlu Fadlan ini menjalani studinya dengan penuh perjuangan. Dirinya sempat di vonis mengidap low vision oleh dokter mata,

“Saya sempat ingin pindah ke Cirebon pas semester satu, tidak enak merepotkan banyak orang karena dokter memvonis saya mengidap low vision” Ujar Risa, sambil haru menceritakan kisahnya dulu.

Low vision merupakan jenis tunanetra yang membuat seseorang memiliki gangguan penglihatan, akan tetapi masih memiliki sisa penglihatan dan dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan alat bantu.

Kelainan itu membuat Risa menderita saat melihat benda jauh, mengerjakan tugas, bahkan saat ingin membaca materi perkuliahan untuk keperluan ulangan.

“Kadang tidak nyaman dengan ini, membuat saya tidak bisa lama-lama membaca materi perkuliahan, bahkan sampai minta tolong teman untuk membacakan materi, saya yang mendengarkan sambi menyimak” tutur Risa

Risa mengaku harus berjuang penuh dalam mengikuti perkuliahan. Dia harus melawan rasa sakit yang diderita dan menyembuyikannya di hadapan teman teman lain, meski kadang kelainan yang dimilki berujung pada cemohan, bahkan membuat orang lain mengejeknya secara tidak langsung.

“Ia, kadang terasa sakit waktu di ejek, ndak enak sebenarnya”Ungkapnya.

Meski demikian,  Risa tak pernah menyerah. Dia terus gigih untuk belajar. Terlebih lingkungan pesantren yang ia tinggali bisa memberikan kebahagiaan sehingga melipur kesedihan yang dia alami.

“Alhamdulillah di sini saya merasa bahagia, waktu suasana hati sedang tidak enak, saya bisa ikut main rebana dan disksusi sama temen lain, bikin saya happy.” Ujar Risa.

Berkat kegigihan dan ketekunan yang dimiliki, Risa mampu meraih prestasi sebagai Lulusan terbaik FITK UIN Walisongo Semarang. Ia berprinsip  bahwa semua tugas yang diberikan dosen kepadanya harus dikerjakan, satupun tidak boleh disepelekan.

Dia berpesan kepada mahasiswa lain agar kesempatan kuliah ini dijadikan sebagai ajang untuk belajar diskusi dan mengembangkan setiap potensi yang dimiliki. Sedang segala kendala yang dialami sebenarnya adalah kelebihan yang Allah titipkan kepada kita.

“Jangan pernah memandang kekurangan sebagai penghambat, hadirnya seyogyanya dijadikan motiviasi untuk lebih baik lagi, ini adalah anugrah, bukan kekurangan” Ungkap Risa

Ia menuturkan,meskipun dosen kadang memberikan banyak tugas kepada mahasiswa,dosen tidak pernah bermaksud menyengsarakan, namun ingin menegaskan agar mahasiwa memiliki kemampuan keilmuan yang tiggi. Hal ini penting untuk diketahuai agar mahasiswa memiliki rasa terimakasih, salah satunya adalah dengan mendoakan mereka. (Nasikhin)