FITK

Dari Buku BIPA Eko Widianto, M.Pd. Tawarkan Cara Kaji Indonesia pada Ruang Diskusi Global

Semarang — Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang kembali menorehkan capaian akademik di tingkat internasional. Salah satu dosen Program Studi PGMI, Eko Widianto, M.Pd., bersama Tina-Karen Pusse, berhasil mempublikasikan artikel berjudul “Language Teaching or Cultural Selling? A Critical Discourse Analysis of Tourism Bias in BIPA Textbooks” pada jurnal internasional bereputasi Humanities & Social Sciences Communications yang terindeks Scopus Q1.

Artikel ini mengkaji buku ajar BIPA Sahabatku Indonesia level 1–7. BIPA merupakan program pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing. Melalui buku ajar ini, pembelajar dari berbagai negara tidak hanya belajar kosakata dan tata bahasa, tetapi juga mulai mengenal Indonesia, budayanya, masyarakatnya, serta citra bangsa yang ditampilkan kepada dunia.

Dengan menggunakan pendekatan Critical Discourse Analysis, penelitian ini melihat bagaimana budaya Indonesia digambarkan dalam buku ajar tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa tema pariwisata memiliki porsi yang sangat dominan, yaitu sekitar 60–80% pada tiap level buku. Representasi itu muncul melalui pembahasan tentang destinasi wisata, kuliner, rumah adat, candi, pantai, tempat bersejarah, tradisi, dan pengalaman berkunjung.

Temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa Indonesia dalam buku BIPA lebih sering diperkenalkan melalui wajah yang indah, ramah, unik, dan menarik untuk dikunjungi. Gambaran tersebut tentu memiliki nilai positif karena dapat memperkuat daya tarik Indonesia di mata pembelajar asing. Namun, artikel ini juga mengingatkan bahwa budaya Indonesia sebenarnya jauh lebih luas daripada sekadar pariwisata.

Beberapa aspek budaya yang lebih kompleks, seperti kehidupan beragama, peran gender, masalah sosial, ketimpangan, serta sejarah yang memiliki banyak sudut pandang, belum banyak mendapat ruang. Akibatnya, pembelajar asing cenderung melihat Indonesia sebagai negara yang harmonis, eksotis, dan mudah dinikmati, tetapi belum sepenuhnya memahami dinamika sosial dan budaya yang hidup di dalam masyarakat.

Di sinilah letak pentingnya artikel ini. Penulis tidak menolak pariwisata sebagai bagian dari materi BIPA, tetapi mengajak pembaca untuk melihat bahwa buku ajar juga berperan dalam membentuk cara pandang dunia terhadap Indonesia. Jika pariwisata terlalu dominan, budaya Indonesia berisiko dipahami terutama sebagai sesuatu yang dipromosikan, dipertontonkan, dan “dijual” kepada dunia.

Melalui kajian ini, Eko Widianto dan Tina-Karen Pusse menyimpulkan bahwa banyaknya tema pariwisata dalam buku Sahabatku Indonesia melampaui persoalan pilihan materi. Tema tersebut dapat membentuk cara pandang tertentu, yaitu Indonesia lebih sering dilihat sebagai destinasi wisata, sementara budaya Indonesia dipahami sebagai daya tarik yang dapat dipasarkan.

Capaian publikasi ini menjadi bagian penting dari penguatan reputasi akademik FTIK UIN Walisongo Semarang. Melalui riset ini, FTIK menunjukkan kontribusinya dalam kajian pendidikan bahasa, budaya, dan diplomasi Indonesia pada percakapan akademik global.

 

Exit mobile version