FTIK UIN Walisongo Online, Semarang – Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti lobi Gedung Dekanat Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Walisongo Semarang pada Rabu (1/4/2026). Keluarga besar fakultas tertua dan terbesar di UIN Walisongo Semarang ini berkumpul guna melangsungkan tradisi Halalbihalal pasca-Idulfitri 1447 H.
Acara ini menjadi istimewa karena dihadiri oleh deretan tokoh senior dan para mantan dekan lintas generasi, mulai dari Prof. Mustaqim, Prof. Ibnu, Bapak Suja’i, hingga Bapak Darmuin. Kehadiran para perintis ini mempertegas ikatan silaturahmi yang tak terputus di lingkungan FTIK.
Dekan FTIK UIN Walisongo, Prof. Dr. Fatah Syukur, M.Ag., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada para senior yang telah meletakkan fondasi kuat bagi fakultas. Di tengah suasana fitri, Prof. Fatah juga menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas segala kebijakan operasional yang mungkin menimbulkan ketidaknyamanan.
“Selaku pribadi dan dekan, saya mohon maaf lahir dan batin atas segala kesalahan yang disengaja maupun tidak. Termasuk dalam hal-hal administratif seperti penilaian E-Kinerja yang mungkin dirasa kurang berkenan. Mari kita buka lembaran baru dengan hati yang bersih,” tutur Prof. Fatah rendah hati.
Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., yang turut hadir memberikan sambutan khusus, memuji FTIK sebagai “jantung” akademik universitas. Beliau menyoroti dominasi jumlah profesor dan guru besar yang paling banyak lahir dari rahim FTIK, baik dari kalangan senior maupun dosen muda.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Musahadi kembali mengingatkan pesan ikonik yang pernah ia sampaikan saat pengukuhan guru besarnya pada tahun 2020 silam.
“Menjadi Rektor atau Dekan itu kursinya terbatas, jadi kalau tidak menjabat, tidak ada yang salah. Namun, kalau ada dosen yang tidak bisa menjadi Guru Besar, itu yang harus dievaluasi. Sebab, kursi Guru Besar itu tidak terbatas dan yang menentukan adalah diri sendiri melalui karya akademik,” tegas Rektor disambut tepuk tangan hadirin.
Menyadari FTIK dihuni oleh banyak tokoh dan pemikir besar, Prof. Musahadi berkomitmen untuk mengedepankan prinsip harmonisasi. Ia membuka diri terhadap segala kritik dan nasihat demi kemaslahatan universitas, terutama dalam menghadapi dinamika eksternal yang berubah luar biasa cepat.
“FTIK ini fakultas besar dengan potensi luar biasa. Saya memohon kita semua bergandeng tangan. Mari majukan UIN Walisongo Semarang dengan semangat kebersamaan. Saya dengan rela hati siap dinasihati demi kemajuan kita bersama,” tambahnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah singkat yang disampaikan oleh Dr. Abdul Wahid, M.Ag., yang menekankan pentingnya menjaga konsistensi amal kebaikan pasca-Ramadan. Kegiatan diakhiri dengan sesi mushafahah (bersalam-salaman) dan foto bersama sebagai simbol luruhnya segala khilaf dan bersatunya tekad untuk membawa FTIK UIN Walisongo Semarang semakin unggul di masa depan.
