FITK

Tanah Suci, Sejarah, dan Kompas Pendidikan

Madinah — Di sela perjalanan sucinya dalam menunaikan ibadah haji, Kaprodi PPG Dr. Dwi Istiyani, M.Ag. menyempatkan diri menapak sejumlah ruang bersejarah di Kota Madinah. Perjalanan pribadi ini melampaui kunjungan biasa; ia menjadi ziarah pengetahuan yang mempertemukan ibadah, sejarah, pendidikan, dan refleksi spiritual. Melalui kunjungan ke Masjid Quba, Masjid Qiblatain, dan Percetakan Al-Qur’an di Madinah, perjalanan haji tersebut menghadirkan pengalaman yang sarat makna, seolah mengajak pembaca melakukan virtual visit untuk kembali menapak jejak peradaban Islam.

Madinah selalu memiliki cara tersendiri untuk menyapa siapa pun yang datang kepadanya. Kota Nabi ini menyimpan kisah dalam setiap sudutnya. Jalan-jalannya menghadirkan ingatan, masjid-masjidnya memantulkan nilai, dan suasananya menuntun hati untuk merenung lebih dalam. Dalam suasana ibadah haji yang penuh kekhusyukan, langkah Dr. Dwi Istiyani menuju tempat-tempat bersejarah tersebut menjadi perjalanan batin untuk membaca ulang makna sejarah dengan hati yang lebih jernih.

Kunjungan pertama membawa Dr. Dwi Istiyani ke Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah. Dari Masjid Quba, pembaca seolah diajak kembali menelusuri jejak Rasulullah SAW dan para sahabat dalam merintis masyarakat Madinah. Tempat ini memberi pesan kuat bagi dunia pendidikan: pendidik memiliki peran untuk menyampaikan ilmu sekaligus membangun fondasi nilai. Sebagaimana Masjid Quba menjadi titik awal pembentukan peradaban, pendidikan pun menjadi ruang awal bagi lahirnya manusia berkarakter, beriman, berilmu, dan memiliki kepedulian sosial.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Masjid Qiblatain, masjid yang menyimpan peristiwa penting perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah. Bagi dunia pendidikan, makna Masjid Qiblatain terasa sangat relevan. Pendidikan perlu mampu membaca zaman, menyesuaikan pendekatan, dan tetap berpegang pada prinsip. Perubahan bukan sesuatu yang harus ditakuti selama ia mengarah pada kebaikan. Dari tempat ini, sejarah menjadi kompas masa depan, penunjuk arah bagi pendidik agar tetap memiliki orientasi dalam membimbing generasi. Sejarah memberi pelajaran bahwa kemajuan memerlukan keberanian untuk berubah, tetapi perubahan tetap harus berpijak pada nilai.

Kunjungan berikutnya membawa Dr. Dwi Istiyani ke Percetakan Al-Qur’an di Madinah. Tempat ini menjadi salah satu pusat penting pencetakan dan penyebaran mushaf Al-Qur’an ke berbagai penjuru dunia. Di balik setiap mushaf yang tercetak, terdapat proses panjang yang menuntut ketelitian, kehati-hatian, amanah keilmuan, dan penghormatan mendalam terhadap kalam Ilahi. Kunjungan ini menghadirkan kesadaran bahwa literasi Qur’ani mencakup kemampuan membaca teks, menjaga kemurnian pesan, memahami makna, serta menghidupkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.

Di titik ini, perjalanan haji Dr. Dwi Istiyani merupakan perjalanan spiritual sekaligus intelektual. Tanah Suci menjadi tempat untuk berdoa, merenung, membaca sejarah, dan menemukan kembali makna pengabdian. Bagi seorang Kaprodi PPG, pengalaman tersebut memberi pesan mendalam bahwa pendidikan guru perlu berakar pada nilai, kesadaran sejarah, dan tanggung jawab moral.

Ungkapan “Jas Merah: jangan sekali-kali melupakan sejarah” menemukan maknanya secara utuh di Madinah. Sejarah bukan sekadar catatan masa lampau, melainkan cermin untuk memahami hari ini dan bekal untuk membangun masa depan. Dari Masjid Quba, umat belajar tentang fondasi. Dari Masjid Qiblatain, umat belajar tentang arah. Dari Percetakan Al-Qur’an, umat belajar tentang amanah ilmu dan literasi.

Dengan demikian, perjalanan haji Dr. Dwi Istiyani di Madinah menjadi kisah pribadi seorang akademisi yang sedang menunaikan ibadah, sekaligus cerita inspiratif tentang bagaimana sejarah dapat dihidupkan kembali, bagaimana spiritualitas dapat memperkaya pendidikan, dan bagaimana jejak masa lalu dapat kompas bagi langkah masa depan.

Exit mobile version